Hari Pers Sedunia: Antara Retorika Kebebasan dan Realita yang Dibatasi
Nusapos.com, Rohul | Setiap tanggal 3 Mei, dunia memperingati Hari Pers Sedunia dengan semangat yang sama: menjunjung tinggi kebebasan pers, membuka ruang kritik, dan menegaskan komitmen terhadap transparansi. Panggung dipenuhi pernyataan indah, bahwa pers adalah mitra, kritik adalah bagian dari demokrasi, dan pemerintah siap dikoreksi.
Namun di balik kalimat yang terdengar ideal itu, publik mulai merasakan ada jarak antara janji dan kenyataan. Kritik memang diterima, tetapi seringkali dengan syarat tak tertulis. Selama tidak menyentuh kepentingan, tidak mengusik stabilitas, dan tidak membongkar hal-hal sensitif, kritik masih dianggap wajar. Namun begitu kritik menjadi tajam dan menohok, respons yang muncul kerap berubah drastis.
Nada yang awalnya terbuka menjadi defensif. Sikap yang semula ramah berubah sensitif. Kritik tidak lagi diposisikan sebagai masukan, melainkan dianggap sebagai serangan.
Fenomena ini bukan sekadar persepsi, tetapi realitas yang dirasakan banyak kalangan. Alih-alih dibalas dengan argumentasi yang sehat, kritik sering dihadapi dengan sindiran, penyangkalan, bahkan upaya pembungkaman secara halus. Dalih yang muncul pun klasik: kritik dianggap tidak memahami konteks.
Padahal, hakikat kritik memang tidak selalu nyaman.
Kritik bukan pujian yang dibungkus saran. Ia adalah cermin yang memantulkan realitas apa adanya. Dan persoalannya, tidak semua pihak siap melihat refleksi diri tanpa polesan. Di titik inilah publik mulai mempertanyakan: apakah yang benar-benar diinginkan adalah kritik yang membangun, atau sekadar persetujuan yang dibalut seolah-olah partisipasi?
Ruang kebebasan berpendapat terasa seperti ruang bersyarat. Terbuka, tetapi dengan batas yang tak terlihat. Masyarakat boleh berbicara, selama tidak menyentuh wilayah yang dianggap sensitif.
Inilah paradoks yang terus berulang dalam praktik demokrasi. Kebebasan dirayakan, namun perbedaan kerap dipandang sebagai ancaman. Suara kritis dicurigai, bukan diapresiasi.
Padahal, kekuatan sebuah kekuasaan tidak diukur dari seberapa cepat ia membalas kritik, melainkan dari seberapa dewasa ia menerimanya. Bukan tentang siapa yang paling lantang berbicara, tetapi siapa yang paling mampu mendengar.
"Momentum Hari Pers Sedunia seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan retorika. Ia adalah pengingat bahwa pers bukan musuh, dan kritik bukan ancaman. Keduanya merupakan pilar penting untuk menjaga arah kekuasaan tetap berada di jalur yang benar," ujar Endang Sunaryo Nasution yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PJS Kabupaten Rokan Hulu. Pada Minggu (3/3/2026).
Ia menambahkan, Jika kritik masih disambut dengan emosi, maka persoalannya bukan lagi pada keberanian pers untuk bersuara. Melainkan pada kesiapan penguasa untuk benar-benar membuka diri dan tidak alergi terhadap perbedaan.(*)
Editor :Febri Wahyudi